All My Friends, begitu besarnya kasih dan ketulusan cinta seorang ibu!
Tiap tanggal 22 Desember seluruh dunia memperingati hari IBU, mungkin udah lewat 22 Desember 2011 kemarin yahhhh, tapi gak ada masalah !!!! mau lewat ato nggak kita tetap di tuntut untuk menghormati dan menghargai sosok Bunda kita.
Hanya mengutip kalimat seseorang yang berbunyi "
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun
ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa
terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga
dengan cinta
seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di
mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun."
Bahasa seorang ibu sangat diperlukan untuk mengolah pribadi buah hati.
1. Bahasa Lisan
Bahasa ini benar-benar diucapkan oleh mulut untuk didengar oleh telinga.
Ibu berbicara dengan anak dari hati ke hati. Tanyakan pada anak mengapa
ia berperilaku aneh, berbuat salah, dan sebagainya. Dengarkan
penjelasan si anak. Setelah itu, ibu baru menjelaskan dampak buruknya
dan menasihati dengan hati-hati. Nasihat diberikan seperlunya saja
karena nasihat yang bertele-tele dirasa menyebalkan. Jika perilaku
menyimpang tidak berubah, tegur sekali lagi dan berikan sanksi. Jurus
terakhir, bentak satu kali saja, lalu diamkan dan berlalulah darinya
beberapa saat. Ajarilah anak Anda berpikir mengapa ibu berbuat demikian,
point ini harus kita peroleh.
2. Bahasa Tulis
Media ini masih jarang digunakan oleh para ibu. Untuk anak usia TK-SD,
cara yang tepat adalah melalui puisi, komik, ataupun cerpen ringan.
Buatlah sentilan-sentilan yang berhubungan dengan perilaku menyimpang.
Sisipkan juga perilaku anak kita. Porsinya harus dibatasi, sedikit demi
sedikit, agar anak tidak merasa disindir. Tokoh yang dihadirkan dalam
cerita jangan memakai nama si anak, tetapi tokoh yang diidolakan anak.
Dengan demikian, anak akan cepat untuk memperbaiki kesalahannya.
3. Bahasa Tubuh
Gerak
Tidaklah bijaksana apabila seorang ibu serta merta memukul, mencubit,
menjewer anak ketika anak berbuat salah. Bisa jadi Anda akan mendapat
julukan “kejam, galak”. Ibu dapat menghaluskannya dengan mengacungkan
telunjuk tangan, menggelengkan kepala, ataupun gerakan seperti
melambaikan tangan, untuk memperingatkan anak.
Mimik
Mimik atau ekspresi wajah seorang ibu dapat juga digunakan untuk memberi
sinyal ketidaksenangan pada perilaku menyimpang si anak. Jika mendapati
anak berbuat menyimpang, tataplah dia, dan jangan ragu untuk
mengekspresikan ketidaksukaan Anda dengan perilakunya. Tetaplah diam,
jangan ditumpangi dengan kecerewetan dan omelan-omelan, terlebih di
depan umum. Anak juga butuh dihargai. Jangan sekali-kali mencap jelek
dan menjatuhkan mental anak di muka umum. Setelah itu, tinggalkan anak
beberapa saat untuk memberikan kesempatan dia berpikir.
4. Bahasa Kasih
Seistimewa apa pun keanehan atau perilaku menyimpang anak, dan sehebat
apa pun pendidikan atau karier seorang ibu, bahasa kasih sangatlah
utama. Ibu harus dapat mendidik, menasihati, membimbing, mengarahkan,
ataupun memarahi dengan penuh kasih. Apabila anak sudah menunjukkan
perubahan yang baik, jangan lupa untuk selalu mengungkapkan rasa terima
kasih pada anak, entah itu lewat ucapan lisan, puisi yang indah,
kecupan, pelukan hangat, senyuman, ataupun tatapan mesra. Jika bahasa
ini benar-benar dibiasakan oleh ibu, maka anak benar-benar menikmati dan
mengharap kehadiran bahasa ini pada kehidupannya.......................................................
Anak adalah titipan-Nya yang harus dijaga dengan baik. Untuk itu sedini
mungkin ibu harus berani meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan kasih
sayang untuk menyelami kepribadian dan perkembangan anak. Jika tidak,
penyimpangan akan bermunculan. Semakin terlambat ibu bertindak membenahi
penyimpangan itu, akan semakin sulit untuk meluruskannya kembali.
Apa sumber motivasi
terbesar dalam hidup?
Mungkin jawaban yang tepat adalah CINTA!! Cinta
di sini bukan hanya berarti hubungan sepasang insan berlainan jenis,
namun lebih kepada cinta universal. Cinta seorang ibu / ortu pada
anaknya atau sebaliknya.. Inilah kekuatan terbesar yang dimiliki yang
bisa menjadi sumber motivasi bagi semua orang.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja,
seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan
bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang
segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu
duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di
tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku
melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku
dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia
berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” —-KEBOHONGAN IBU
YANG KE DUA
Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah
abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak
mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku
berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak
penat” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak
dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat
ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil
menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!”
———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia
harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun
semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi
keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang
tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun
masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita
yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi.
Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,
ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah
dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak
mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada
duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM
Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat
master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama
di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya
aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku
bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu
yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata
kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG
KE TUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus,
harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera
atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku
melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani
pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh
kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku
karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu
menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering.
Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali
melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya
berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN
IBU YANG KE DELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya
percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali
mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah
berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah
kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu
kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu
mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang
kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika
dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan
pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita,
risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila
di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari
orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau
apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau
ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai
kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik.
Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan.
Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan
penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang
kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan
keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam
kehidupan.
http://www.andriewongso.com
http://www.antonhuang.com








Tidak ada komentar:
Posting Komentar